Potret Hutang Indonesia : Liberalisme yang Begitu Kental


oleh: Prasetya F Idris

Liberalisme adalah paham yang sangat memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tanpa ada penghalang selain dari dirinya sendiri. Dewasa ini paham liberal begitu kental terasa dan menjadi paham yang dominan seantero dunia. Sejak meletusnya Revolusi Perancis, dengan semboyan liberte, feternite, legalite, paham liberal seakan sudah disepakati bersama sebagai paham terbaik yang harus diterapkan di seluruh dunia agar manusia dapat mencapai kebahagiaan dan kepuasan hidup di dunia yang juga seakan sudah menjadi kesepakatan untuk menjadi tujuan hidup semua manusia. Maka di kemudian hari dan masih kita rasakan sampai saat ini Amerika Serikat dan Barat begitu gencar mengkampanyekan paham ini dengan dua senjata utamanya yaitu Demokrasi dan Hak Asasi Manusia.

Sebagai orang Minang yang memegang teguh adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah, harus kita pahami bahwa yang menjadi acuan dalam menjalankan hidup bagi orang Minang adalah syarak dan adaik. Mengacu pada pitatah minang di atas, adaik pun mesti dibenarkan oleh syarak, artinya bahwa adaik tidak mungkin dan tidak boleh bertentangan dengan syarak. Jika ada pertentangan antara adaik dan syarak maka yang harus diambil adalah syarak ( Islam ), karena adaik basandi syarak. Idealnya memang adaik tidak menyalahi syarak.

Islam mengajarkan bahwa setiap hutang mesti dipertanggungjawabkan nanti di kehidupan setelah mati. Bahkan dalam salah satu hadits disebutkan bahwa hutang akan menjadi penghalang antar muslim yang mati syahid dengan syurga. Sebagaimana kita ketahui bahwa jihad adalah suatu bentuk derajat keimanan tertinggi dalam Islam yang dapat dilakukan oleh seorang muslim. Hadits di atas memberikan gambaran betapa hutang harus dipertimbangkan dengan sangat matang, itu pun kalau kita sudah tidak bisa berbuat dengan tanpa hutang.

Dalam masa beberapa tahun ke depan sangat diharapkan SDM-SDM Minang terutama yang bernaung di IMAMI-UI dapat menjadi tokoh, paling tidak dalam level nasional dan menjadi bagian pengambil dan penentu kebijakan bangsa ini. Sehingga kebijakan yang diambil oleh bangsa ini tidak semata berdasarkan pertimbangn dunia namun juga dari segi syarak-nya. Orang Minang yang baradaik haruslah basyarak dengan baik.

Berdasarkan data terbaru yang dilansir oleh CIA lewat situsnya cia.gov, Indonesia mempunyai hutang yang mencapai angka $ 140,700,000,000 (2008, est.)  dan berada di peringkat ke-29 negara dengan hutang terbanyak di dunia. Angka yang begitu besar untuk ukuran Indonesia, menurut saya, yang hanya mempunyai cadangan devisa sekitar $ 54.000.000.000. Jika kita lihat Indonesia dari segi perusahaan, memang cukup wajar bahwa hutang sebanyak itu sangat diperlukan untuk menjalankan aktivitas kehidupan masyarakat Indonesia. Jika Indonesia tidak berhutang, baik itu kepada luar negeri maupun dalam negeri, maka pembiayaan (financing) dari seluruh aktivitas minimal yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan negara beserta orang yang hidup di dalamnya tidak akan bisa terpenuhi.

Pertanyaannya adalah apakah Indonesia akan pernah terbebas dari hutang sehingga dari segi akhiratnya, sebagai bangsa yang mencantumkan kata-kata Tuhan dan agama dalam konstitusinya, bangsa ini tidak akan dituntut oleh bangsa lain mengenai hutangnya di dunia. Atau setidaknya apakah bangsa ini memang punya niat untuk menjadi bangsa yang bebas dari hutang.

Terlepas dari hal negatif lain yang timbul dari hutang negara ini, suatu pertanyaan penting lain akan muncul. Ketika generasi tua yang sedang menjadi pengambil kebijakan sekarang ini tidak punya visi yang jelas mengenai hutang negara ini, atau bahkan seakan sudah sepakat bahwa roda perekonomian negara ini tidak akan mampu digerakkan tanpa hutang dan bahwa negara ini tidak akan pernah menjadi negara bebas hutang, maka yang bisa diharapkan adalah kita generasi muda yang akan mengisi posisi-posisi yang sedang mereka tempati sekarang. Apakah kita akan menjadi penyelesai masalah hutang bangsa ini dengan solusi yang akan kita telurkan atau kita hanya akan menjadi generasi yang menjiplak kebijakan generasi sekarang.

Ketika negara ini memutuskan untuk mendanai aktivitas negara ini dengan hutang, maka penguasa harus memikirkan bagaimana negara ini bisa melunasi hutang yang dibuat tersebut, atau minimal penguasa harus tahu bahwa negara memang akan mampu untuk melunasi hutang tersebut. Ketika hutang sudah menyangkut negara, dan negara tidak mampu membayar hutang tersebut, maka siapakah yang harus menanggung hutang tersebut? Pertanggungjawaban dari segi dunia dan syarak. Jangan sampai kebijakan yang diambil sangat liberal, mencapai tahap pemisahan pertimbangan antara kehidupan negara dengan agama.

> Diambil dari arsip Buletin IMAMI UI SAKATO.

By urwatulwutsqa9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s