Wajah Diplomasi Indonesia, Ironi Perjuangan Umat Muslim Terbesar Dunia(UWonPaper)

UN IRAN

oleh Wahyu D. Setiawan

Keberhasilan Indonesia menduduki posisi sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada periode 2007-2008 yang lalu merupakan sebuah prestasi Indonesia dalam menjalankan misi diplomatiknya. Perwakilan tetap Indonesia di PBB sendiri, Marty Natalegawa, berkesempatan menikmati ruangan kantor Presiden Dewan Keamanan PBB yang bersebelahan dengan ruang General Assembly selama periode 1 hingga 30 November 2007 lalu. Indonesia juga tercatat dalam 20 besar negara yang mengirim pasukan Perdamaian PBB ke sejumlah negara yang dilanda konflik. Data dari United Nations Security Council memaparkan saat ini tercatat sebanyak 1.030 personel TNI menggunakan Baret Biru PBB dan bertugas diantaranya di Lebanon dan Kongo serta 51 orang Pengamat militer yang bertugas di berbagai pos perdamaian.

Meskipun paparan di atas memberikan catatan prestasi negeri ini di kancah Internasional, hal tesebut tidaklah menjadi representasi Indonesia sebagai sebuah negara Muslim terbesar di dunia. Prahara tersebut muncul ketika peran Indonesia di PBB dikonfrontier dengan segenap persoalan yang melanda umat Muslim di dunia saat ini. Indonesia seakan kehilangan taring diplomasinya yang dibanggakan selama ini ketika berhadapan dengan lobi-lobi politik negara adikuasa –yang didalangi oleh spesialis lobi Yahudi- terkait dengan persoalan yang melanda umat Islam. Sikap Indonesia yang meyetujui resolusi PBB nomor 1747 mengenai sanksi terhadap Iran seakan mempertegas bahwa misi diplomasi Indonesia adalah ironi belaka. Di satu sisi Indonesia menggadang-gadang diri sebagai negara Muslim terbesar di dunia namun disisi lain takluk ketika harus membela saudaranya sesama Muslim.

Konflik antara Israel dan Palestina yang telah menjadi salah satu warisan abad ke-20 pun selalu luput dari aktivitas diplomasi Indonesia. Indonesia tercatat telah tiga kali menjadi anggota DK PBB (1973–1974, 995–1996,2007– 2008) dan selama itu pula konflik di tanah suci tersebut terus berlangsung. Jangankan untuk mengusung suatu Resolusi dalam persoalan konflik tersebut, Indonesia gagal mematahkan argumen dari negara-negara pendukung Deklarasi Balfour yang melahirkan negeri Zionis Israel. Hal yang patut dipertanyakan terhadap keberadaan bangsa ini adalah, Apakah Indonesia masih pantas menganggap dirinya sebagai umat Muslim terbesar di dunia sementara jatidirinya sebagai seorang Muslim rela dijual untuk mendzhalimi saudara-saudaranya sesama Muslim?

Indonesia pada hakikatnya tidak mengalami krisis sumber daya manusia yang menjalankan mesin diplomatiknya. Tercatat sejumlah putra terbaik negeri ini tampil dan berperan aktif dalam pentas Internasional. Sebut saja Ali Alatas yang digelari Singa Diplomasi Indonesia, atau Muchtar Kusumaatmadja yang menciptakan rule model mengenai batas wilayah maritim yang diakui seluruh dunia. Pertanyaan yang timbul yakni, kenyataan Indonesia memiliki banyak diplomat yang disegani namun mengapa peran Indonesia dalam perjuangan umat muslim terlihat utopia belaka?

Benar, Indonesia memiliki sejumlah diplomat yang disegani, namun Indonesia kehilangan karakter diplomasi ala founding father bangsa ini. Indonesia kehilangan trend diplomasi ala Sutan Syahrir yang tegas dan argumentatif namun halus. Indonesia juga tidak lagi memiliki Agus Salim dengan gaya friendship nan “ciluah” dalam perjuangan diplomasi. Kalau dulu Syahrir dan kawan-kawan berjuang untuk tegaknya kedaulatan negeri-nya, kini tiba saatnya Indonesia berjuang untuk kedaulatan umat muslim dunia. DICARI!!! pemuda yang lahir dari rahim Reformasi guna mewarisi titah Sutan Syahrir berikutnya.

>dari Buletin UW on Paper

By urwatulwutsqa9

One comment on “Wajah Diplomasi Indonesia, Ironi Perjuangan Umat Muslim Terbesar Dunia(UWonPaper)

  1. waduh klo mencari tokoh seperti almarhum sutan syahrir, h.agus salim, muhammad natsir dkk. sulitya…sampai saat ini saja kita begitu mengkultuskan president…diawali dari para partai pendukung dan dari rakyat yang mendukung partainya…,apakah anda meilih nya juga..jelas ya.., yang salah bukan indonesia….indonesia selalu bercermin…coba kita fikirkan lagi pusat perdaban islam itu ada dimana?? pusat jantung umat isalam ada dimana?? bukan di indonesia….negara indonesia dan rakyatnya sudah segenap dengan tumpah darahnya…bahkan si miskin mampu mengamalkan 70% hartanya untuk palestina….tapi bagaimana di timur tengah sana yang bergelimang harta yg terjebak pada harta dan syahwat…ketika kekayaan itu datang tidak memikirkan untuk maslahat umat tapi bagaimana mengkoleksi isteri atas nama sunah nabi….kita punya keterbatasan jaringan untuk infrmasi ke masyarakat internasional…dan saat ini yang punya kesempatan itu hanya negara2 timur tengah yg kaya akan minyak nya dan dari dana sumber ibadah….hal yang paling kurang populer terkesan bahwa indonesia dan para diplomatnya tidak mampu membuat suatu gebrakan untuk keadilan dunia…karena seluruh negara di dunia selain indonesia adalah negara2 busuk sekalipun mereka di titipkan harta yg paling besar untuk umat islam di jagad bumi ini….dan para masyarakat internasional itu memang tolol semua….meninggikan konsep hak asasi manusia dalam keadaan buta mata dan hati..tuli pendengaran dan tumpulnya daya fikir mereka…..jadi selama masyarakat internasional tidak punya empati terhadap konsep hak asasi manusia tidak akan ada keadilan bagi seluruh umat manusia di dunia…karena konsep hak asasi manusia juga dilahirkan dan dibuat oleh para penjajah dan pebdukung negara iblis israel….anda tahu siapa yg kejam bukan…semoga kita tidak termasuk di antar mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s