SMAN 1 Padangpanjang, Harapan dalam Sebuah Kegelisahan(UW on Paper)

oleh Prasetya F IdrisJhE_pReT(285)

Baru-baru ini begitu banyak kita dengar berita mengenai parahnya keadaan bangsa ini. Mulai dari keadaan ekonomi yang masih belum sesuai dengan harapan, penyakit-penyakit menular yang entah kapan bisa diselesaikan oleh pihak kesehatan Indonesia, sampai pada berita kecurangan yang terjadi pada Ujian Akhir Nasional dalam berbagai tingkatan instansi pendidikan. Sebegitu parahnya keadaan bangsa ini membuat manusia-manusia yang ada di negeri ini tidak lagi berharap banyak akan perubahan ke arah yang lebih baik. Mungkin, ini hanya pendapat saya, terpilihnya SBY dalam pilpres baru-baru ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai apa yang ada di benak sebagian besar rakyat Indonesia. Negeri ini seakan begitu takut dengan janji-janji yang diberikan Capres lain sehingga lebih memilih SBY yang telah menghadirkan keadaan yang nyaman dari segala sisi untuk rakyat ini. Walaupun keadaan nyaman yang diberikan oleh SBY sebetulnya belum cukup untuk paling tidak menunaikan amanat konstitusi. Bukan takut mengenai kemasukakalan janji yang diberikan, namun takut bahwa keadaan menjadi lebih buruk dari keadaan yang sekarang walaupun mereka menyadari bahwa sebenarnya keadaan dapat berjalan dengan lebih baik lagi.

Sebenarnya apa lagi yang dibutuhkan oleh negeri ini untuk mencapai amanat konstitusi yang salah satunya berbunyi ‘mensejahterakan rakyat Indonesia’. Kalau bicara uang, negeri ini sudah memiliki uang yang bisa dikatakan cukup apalagi ditambah dengan hutang-hutang yang tiap tahun terus dibuat. Kita bisa lihat bahwa anggaran yang dianggarakan oleh masing-masing departemen dan kementrian negeri ini di akhir tahun bisa dikatakan masih banyak yang tidak terpakai secara maksimal. Negeri ini kekurangan ahli? Tidak, negeri ini tidak kurang sedikit pun ahli yang dibutuhkan dalam semua bidang yang ingin digarap oleh bangsa ini. Bahkan SDM-SDM produk asli negeri ini, seperti lulusan ITB, UI, UGM, dan lain sebagainya, ‘diekspor’ ke luar negeri untuk memenuhi permintaan tenaga ahli di negeri tersebut. Apalagi? Sumber Daya Alam? Tentu saja tidak. Kita semua tentu belum lupa pelajaran IPS kelas lima SD yang merinci satu per satu kekayaan yang dimiliki oleh negeri ini dan dimana saja kekayaan alam tersebut bisa ditemukan. Terus, apalagi sebenarnya yang sedang dibutuhkan negeri ini?

Dari berbagai diskusi dan kajian mengenai banyak topic yang telah saya jalani selama di kampus, semuanya terbentur pada satu kesimpulan bahwa negeri ini kekurangan MORAL. Negeri ini punya pemimpin yang berkualitas dengan jumlah yang sangat banyak yang dengan kapasitas yang dimilikinya di atas kertas mampu menyelesaikan setiap masalah yang dibebankan kepadanya. Namun yang tidak dimiliki oleh banyak pemimpin di negeri ini adalah moral. Moral menjadi begitu sangat berharga untuk saat ini. Begitu banyak pihak yang sangat percaya bahwa jika bangsa ini mempunyai moral yang baik, maka permasalahan yang melanda negeri ini dapat terselesaikan dengan baik.

SMAN 1 Padangpanjang cukup berbeda dengan sekolah lainnya di Indonesia khususnya di Sumatera Barat. Pendidikan yang dominan dengan unsur-unsur Islami membuat sekolah ini menjadi istimewa. Dasar penerapan nilai-nilai agama dalam pendidikan formal sekolah menurut saya sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan SDM-SDM yang tidak hanya hanya berkualitas secara akademis tetapi juga, kasarnya, secara moral. Seperti telah disinggung diatas, apa yang dibutuhkan negeri ini bukan SDM-SDM berkualitas tinggiitu sudah banyak dipunyai oleh negeri initetapi SDM yang juga mempunyai moral yang tinggi.

Moral lebih cepat dan lebih baik dihasilkan melalui penerapan nilai-nilai agama. Islam sebagai ajaran yang sempurna mempunyai lebih daripada sekedar moral yang sedang sangat dibutuhkan oleh negeri ini. Jika negeri ini hanya memerlukan moral sedikit moral untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai amanat konstitusi maka Islam akan dengan mudah memberikan moral ini. Islam yang begitu sempurna terkandung semua ilmu yang diperlukan manusia untuk bukan hanya untuk bahagia di akhirat namun juga untuk berhasil di dunia. Kegelisahan rakyat Indonesia saat ini masih menyisakan harapan bagi kaum muda negeri ini untuk bisa menyelesaikan benang kusut negeri ini yang sudah terlanjur kompleks.

Namun pada kenyataannya tidak banyak generasi muda bangsa ini yang dididik untuk memilki moral. Tentu saja keadaan ini sangat menggelisahkan karena generasi muda yang seperti ini tidak banyak member harapan perbaikan. Dan ini terjadi dalam lingkup nasional Indonesia. Tidak banyak sekolah-sekolah yang mampu menggabungkan antara ilmu dan moral. Maka sudah seharusnya bagi siswa SMAN 1 Padangpanjang yang telah dan sedang mendapatkan pendidikan yang cukup mendekati sempurna ini untuk memaksimalkan kesempatan yang tidak didapatkan oleh sebagian besar siswa SMA di Indonesia. Fasilitas yang besar ini menghasilkan tanggung jawab yang besar pula untuk negeri ini. Rakyat Indonesia sudah begitu bosan dengan kemiskinan, pengangguran, kesengsaraan, ketidakpastian, dan ketidakadilan yang selalu menghiasi negeri ini. Rakyat menunggu kalian generasi muda. Rakyat menunggu kalian untuk mengulur kembali benang kusut negeri ini yang sudah lama terlanjur kusut.

By urwatulwutsqa9

One comment on “SMAN 1 Padangpanjang, Harapan dalam Sebuah Kegelisahan(UW on Paper)

  1. memang, kondisi ini layak jadi perhatian utama kita sebagai generasi muda negeri ini. Kita pun bisa menjadi orang yang tak amanah ketika tidak mempedulikan masalah-masalah semacam ini. Walaupun, cenderung dari kita menganggap ini adalah permasalahan yang klasik dan akan tetap berlangsung dari periode ke periode yang lain (tanpa peduli siapa dan bagaimana presiden yang memimpin). Pemikiran2 semacam ini yang menimbulkan sifat antipati terhadap permasalahan bangsa. MUngkin hal ini bisa dilatarbelakangi oleh kebiasaan para pemuda, Saya setuju bahwa tiang yang harus ditegakkan kembali itu disebut MORAL, dan sekolah kita telah menjadi suatu sekolah yang meramu itu secara ideal (dengan IMTAQ dan IPTEK) dan itu yang menjadikannya berbeda. Namun, ada hal yang lebih penting di balik itu, yaitu: bagaimana kita harus kembali menanamkan suatu pandangan kepada anak2 SMAN 1 PAPA (especially di ASRAMA) bahwa mereka bukan hanya dituntut pintar secara akademik, religius, dll…akan tetapi juga menjadi orang yang open main dan kritis terhadap masalah2 bangsa (tanpa membedakan genre spt polhukam, seni, dsb). HAl ini bisa diwujudkan dalam betuk2 kegiatan yang sederhana, seperti: diskusi rutin. dan bagaimana membiasakan mereka untuk rajin membaca (koran-red).

    dari hal itu, dengan sendirinya akan menumbuhkan sifat kritis dan ketegasan dalam karakter mereka. Sebab, selain moral yang mulai terkikis, Bangsa ini butuh orang2 yang tak mengenal dunia abu2, namun tegas untuk memberikan kejelasan antara hitam dan putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s