Pemimpin Besar yang Sederhana

Jika kita berkaca pada sejarah, Indonesia pernah melahirkan pemimpin besar yang sederhana. Bung Karno, hadir dengan ajaran populis, kekeluargaan, karena itulah kekayaan hidup bangsanya. Dia selalu mengenakan peci hitam soekarnoyang banyak digunakan orang Indonesia.Di atas meja makannya ada lukisan pengemis, agar ia ingat akan rakyat saat menyantap sayur lodeh, tahu, dan tempe kesukannya. Bung Hata hadir juga dengan dengan kesederhanaan yang tidak tertandingi. Ketika gaji wapres dinaikkan, ia menolak. Katanya “keuangan negara tidak cukup kuat, sementara banyak rakyat melarat yang memerlukan uang itu”

Pemimpin besar yang sederhana juga dicontohkan oleh Soedirman. Dalam umurnya yang masih muda, 37 tahun ia memimpin gerilya di Jawa. Dalam sdrmansuasana sulit itu, ia digerogoti oleh penyakit paru – paru kronis. Namun, hal itu tidak menciutkan perjuangannya memimpin gerilya walau hanya dengan tandu. Udara basah, hujan , dan perawatan yang tidak baik membuat penyakitnya semakin parah. Tetapi ibu pertiwi memanggilnya dan menuntutnya terus bergerak dan bergerilya. Janjinya sederhana, tapi menghujam: “Saksiakanlah saya Soedirman Pangsar Angkatan Perang Republik Indonesia siap menang”

Kesederhanaan lain juga ditunjukkan oleh Natsir, yang selama ini sejarahimages tidak berdamai dengannya. Ia dimakamkan tidak di taman pahlawan. meskipun ia terlibat PPRI dulunya, namun ia pernah mengabdi bagi negeri ini dan menjadi perdana menteri. Kehidupannya juga sederhana, tak kalah dari Hatta. Kekayaan yang ia dapat selama menjabat sebagai perdana menteri, ia hattatinggalkan begitu habis masa jabatannya. Pakaiannya juga sederhana, bahkan ada tambalan pada jasnya, sementara ia sebenarnya mampu untuk membeli jas baru.

Begitu juga dengan yang satu ini, Haji Agus Salim ketika KMB. Dalam konferensi tersebut ia hanya memakai sarung dan juga peci  dengan sebatang A Srokok kretek.  Saat di protes karena bau menyengat dari rokoknya, dia berujar, “Tuan – Tuan, benda inilah yang membuat Tuan – Tuan  datang dan menjajah negeri kami”

Namun saat ini, kita dibuat miris dengan laku hidup para pemimpin kita. Nilai kebersamaan, kejujuran dan kesederhanaan yayng dicontohkan oleh para pemimpin terdahulu seolah sirna. Padahal situasi yang berkembang saat ini sangat memungkinkan lahirnya pemimpin besar. Para pemimpin dan penguasa saat ini justru menganut nilai sebaliknya. Melebarkan jarak antara miskin dan kaya, penuh tipu daya, dan hidup dibalut kemewahan, justru itu yang ditonjolkan. Mereka seolah hidup di alam lain dari rakyat yang  dipimpinnya.

Jika pemimpn masa lalu lahir dari rahim idealisme perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan, pemimpin sekarang umumnya lahir dari rahim zaman pragmatisme. Sungguh ibu pertiwi merindukan para pemimpin yang sederhana.

[diambil dari MenggemaNews

Menggema-UI 2009]

By urwatulwutsqa9

3 comments on “Pemimpin Besar yang Sederhana

  1. kalau bukan kita, siapa lagi??

    kalau bukan sekarang kapan lagi??!!

    nice posting…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s