Sesuatu yang Tertunda

Hari ini minggu tanggal 7 juni, adalah hari yang dinantinya. Hari di mana aku akan bertemu dengan seorang penulis kebanggaanku. seorang penulis yang dari bukunya aku belajar akan nikmatnya membaca. Buku yang memperkenalkan aku akan makna islam dan indahnya hidup dengan nuansa islam. Islam tidak mengekang pengikutnya, hanya saja pengikutnya tidak ingin di tunjuki jalan yang benar oleh islam.

Aku berangkat lebih awal ke toko buku gramedia dari jadwal sebenarnya. Aku tidak ingin ketinggalan. Aku sempat lupa karena keasyikan menonton film kartun kesayanganku, one piece! Namun hal itu tidak membuat ku kehilangan kesempatan. Dengan bergegas aku pergi menyaksikan road show ketemu bintang dan penulis “ Ketika Cinta Bertasbih” itu. Tampak sekali dari wajahku keceriaan yang memancar. Tidak perlu kendaraan untuk sampai ke toko buku tersebut. Cukup dengan berjalan kaki, dalam lima belas menit akan sampai. Selama perjalanan menuju acara tersebut, aku berkomat – kamit sendiri mempersiapkan pertanyaan yang akan di ajukannya ketika road show nanti. Aku tidak sabaran ingin bertemu dengan penulis pujaan ku itu.

Tertulis jelas pada spanduk bahwa acarannya pukul dua siang. Aku berangapan pukul satu siang. Namun tidak apa – apa aku bisa lebih leluasa mempersiapkan pertnyaan yang akan aku ajukannya nanti sambil mencuci mata dengan buku – buku ini yang selalu menarik hatiku untuk membeli. Sudah empat kali aku ke toko buku hanya untuk cuci mata dan mencari inspirasi untuk menulis. Namun hal itu tidak membuat aku bosan. Bagiku buku adalah teman sejati yang akan selalu bersahabat denganku di mana saja dan kapan saja. Ketika kesendirian mendekatiku, maka buku akan menemaniku. Ketika tidak ada teman untuk berbicara, buku akan memanggil ku untuk bercerita bersama. Buku bagi ku adalah teman sejati yang setiap kali di perlakukan seenaknya oleh manusia, namun ia tidak marah, dan selalu setia ketika ingin menemani.

Aku bahagia sekali rasanya jika dapat bertanya, oh tidak…tidak…tepatnya memberi respon terhadap buku – bukunya yang sangat menawan. Aku iri sekali ketika adik – adik kelas ku di daerah asal ku dapat berfoto bersama dengan penulis itu. Pasalnya beliau dua minggu sebelum ke kota Depok pernah datang dalam acara yang sama ke sekolah ku dulu. Ah.. aku juga harus dapat berfoto dengan beliau. Aku…aku..aku… aku tidak sabaran. Aku berputar – putar kesana – kemari sambil bicara pada diri ku sendiri. Aku masih saja mempersiapkan pertanyaan yang akan aku ajukan. Walau pun tidak begitu dasyat, yang penting bagi ku waktu itu adalah dapat berbicara padanya.

Aku tersenyum sendiri membanyangkan ketika aku bertanya padanya di depan semua orang. Aku berbicara layaknya Ary Ginanjar. Aku di panggil ke depan, duduk bersamanya. Setelah aku bercerita tentang kesan ku padanya, aku juga bilang aku berasal dari Padangpanjang, dan juga berasal dari SMAN1 Padangpanjang, sekolah yang pernah ia singgahi dua mingu lalu. Setelah aku selesai berbicara aku dapat souvenir cantik darinya, dan sebuah buku. Astagfirullah…aku terlalu berkhayal.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Semua orang sudah beramai –ramai berkumpul pada pojok toko buku itu. Ada beberapa kursi empuk di sana. Tetapi sudah terisi semua. Di depannya berjejer sofa untuk para bintang tamu. Latarnya berupa susunan buku “Ketika Cinta Bertasbih”. Asyik memang. Aku pun ikut berdiri di gerombolan orang – orang tersebut sambil membaca buku – buku yang terjangkau oleh tangan ku. Karena ketika aku mengambil buku yang jauh, posisi ku akan di gantikan oleh orang lain. Jadinya akan sulit ketika aku bertanya nanti. Aku harus berada di depan. Aku tidak sabaran menunggu mereka. Aku sudah persiapkan pertanyaan ku sebaik mungkin. Saatnya menunggu.

Sudah satu jam aku berdiri menuggu mereka bersama semua orang di sana, mereka belum juga datang. Satu – persatu orang mulai bubar, ada yang kembali melihat – lihat buku, ada yang turun ke lantai satu. Hal yang paling tidak aku suka, menunggu dan ketidak-tepatan waktu! Aku pun beranjak dari posisi ku kembali melihat buku – buku. Rasa kecewa mulai tumbuh dalam benak ku. Ah dasar orang Indonesia! Kesal ku.

Aku masih bermondar – mandir dari ujung ke ujung. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Kekesalan ku memuncak. Aku putuskan untuk turun dari lantai dua. “Ah..ini kan mas Dedi petet ??” kata ku dalam hati. Aku berpapasan dengannya ketika akn turun lif. Aku putuskan untuk tetap menuggu, kemungkinan tidak lama lagi kang Abik akan datang. Tidak ada artinya kalau aku pulang sekarang, hanya sia – sia yang akan ku dapatkan. Aku teruskan menunggu. Tidak lama berselang, muncul Furqon dan Cut Mala bersama juga dengan Husna, tokoh dalam Ketika Cinta Bertasbih itu. Hati ku mulai terobati. Oki di mana ya? Tanya ku heran terhadap pemeran Anna itu. Aku masih menunggu kang Abik. Bagi ku beliau yang saat ini ingin aku temui, bintang yang lain terasa biasa saja bagi ku. Sementara acara sudah di mulai, aku masih sebuk mondar – mandir kesana kemari dekat tangga lif. Malihat orang – orang pada sibuk mengambil foto, terbesit juga dalam hati ku untuk mengambil foto bintang -bintang itu.

Cukup lama aku menunggu, kebosanan ku memuncak, aku putuskan untuk membeli satu buku dan berinisiatif untuk pulang. Kali ini aku kecewa tidak dapat bertemu idola ku. Aku juga belum solat ashar, pasalnya jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Aku urungkan niat ku untuk bertanya. Aku simpan dan aku pagar pertanyaan itu di balik otak ku. Aku pergi ke kasir membayar buku yang baru saja kau beli, kemudian melangkah menuju lif. Tiba – tiba…

Aku terdiam tak bergerak. Mata ku menatap satu pandangan pada mata ku dari seorang penulis kebangganku. Aku sesaat melayang, kemudian jatuh kembali karena aku sadar sedang berada di pintu lif untuk turun. Beliau tepat akan naik lif, sama dengan ku, tepat akan turun lif. Aku berbalik mengambil kameraku, aku ingin berfoto bersamanya seperti Messi, pemain sepak bola asal argentina yang di foto oleh fensnya dengan memeluknya ketika ia sedang berjalan. Tapi aku tak kuasa melawan rasa segan dan malu ku. Sementara ia tetap berjalan menuju tempat acara. Aku pergi ketempat acara tadi dan hanya sempat mengambil beberapa fotonya. Aku mundur dan turun, keluar. Aku kembali dengan membawa sedikit kekecewaan dan sedikit hiburan.

Aku masih ingat ketika kami saling berhadapan, aku sempat senyum padanya, namun ia tidak membalas senyum ku. Aku sedih,namun aku yakin itu karena ia heran siapa aku yang tersenyum padanya layaknya orang yang saling kenal. Bagaimana dengan pertanyaan ku tadi?! Ah..biarlah, ini adalah pengalaman hidup ku. Tapi…pertanyaan itu adalah yang terbaik kau persiapkan untuknya. Aku tertunduk dengan sedih berjalan menelusuri jalan setapak menuju kosan ku. Aku bukan siapa – siapa, dia pun bukan siapa- siapa yang harus aku sedihkan. Betapa bodohnya aku. Aku tersenyum di hela raut sedih ku.

by Iin Hardianto (blog : bukuindra.blogdetik.com)

By urwatulwutsqa9

2 comments on “Sesuatu yang Tertunda

  1. suatu saat, Bro bukan dia yang akan ditunggu-tunggu, tapi dirimulah yang akan berda di posisinya sekarang.

    Keep spirit!!!!

    UW in the acceleration!!!!

  2. hidup ini bagai roda, akh..
    maka kekuatan idealisme kita yang jadi jari-jarinya!

    UW, keep moving forward!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s